Archive for March, 2007

Bodoh

Tuesday, March 27th, 2007

Satu minggu belakangan saya keliatan seperti orang bodoh *apa memang iya ya?*

  1. Soal Freetalk, bayangkan bertahun2 berlangganan operator ‘itu’, belum satu kalipun saya menggunakan fasilitas freetalk. Dengan terheran2 saya mendengarkan penjelasan teman kantor saya tentang kebijakan freetalk, yang sudah berubah kali ketiga, yang satupun tidak saya ketahui.
  2. Dengan pedenya, saya menyapa teman kantor saya, yang hari itu terlihat lain dengan rambut lebih lurus "Hai, abis rebonding ya?". Dengan santainya dia bilang itu smoothing, teknologi terkini setelah rebonding *ups..meneketehe*, untung dia ga bilang "cuma pake sampo".
  3. Saya baru ngeh, kalo assisten II ternyata beda sama dalbang, walaupun di pintunya sama2 ada tulisan "….pengendalian…". Cape deh.

time

Tuesday, March 27th, 2007

it’s a matter of..
time.

Selamat Berlibur

Saturday, March 17th, 2007

Niatnya sih membawa notebook pulang untuk copy mp3 dan online pake ‘hp bersama’, tapi ternyata semua tinggal mimpi, ada tugas tambahan via sms tentu saja. Masih banyak berkas yang harus dilengkapi, kiriman konsep2 baru via email. Plis deh, katanya ‘Selamat berlibur!, sampe ketemu hari Selasa’. Semoga film-nya tidak bermasalah.

Aku ngga ngerti

Saturday, March 17th, 2007

Sampe bingung mesti ngomong apa, pernah ga sih ketemu orang yang super nyebelin plus keras kepala atau lebih tepatnya arogan banget alias belagu..kalo aja saya punya sedikit tenaga kemarin -terkuras habis untuk persiapan serah terima berita acara Jum’at sama ekspose buat Selasa besok- saya ga segan2 mengeluarkan kedahsyatan atau lebih  tepatnya kejudesan saya. Ngga peduli dia itu laki2 dan dua kali lipat lebih besar dari saya. Kalo aja saya ngga akhirnya berpikir ulang ‘yang waras ngalah’, saya pastikan udah saya injek kakinya trus saya kabur ke lantai IV…

Panic Monday

Monday, March 12th, 2007

Kalau tidak panik, bukan Senin. Sepertinya saya mulai terjebak dengan slogan itu. Senin pagi ini, saya bertekad untuk tidak bermalas2an, sehingga tidak terlambat apel pagi. Mandi pukul enam, sarapan, dan berangkat tepat jam setengah tujuh. Dalam hati saya membatin, tumben tidak ada gejolak berarti di hari ini. Tapi hujan deras yang tidak kunjung reda, yang mulai membuat malas. Akhirnya berangkatlah saya dengan berseri2, karena memang ada tetangga saya bilang saya cantik hari ini -teteuuup ah narsis. Mungkin ini hukuman atas kenarsisan saya, dalam perjalanan tiba2 saya ingat, dompet saya ketinggalan!!!..Sambil panik, dan…tentu saja pengen nangisss, saya pulang lagi. Total waktu, dari pulang hingga berangkat lagi, lumayan lama, dan ternyata sudah pukul tujuh kurang lima menit. Dengan sigap saya telpon temen saya, mengabarkan saya pasti akan telat nanti. Padahal ini kan hari Senin, hari wajib apel. Sesuai perkiraan , saya telat. Dan masuk kantor dengan terengah2, kehilangan banyak ‘hal’, padahal kan ini hari terakhir minggu ini. Belum saya selesai menceritakan kesialan saya ke teman kantor, yang akhirnya cuma dijawab "mmm.. itu sering terjadi di kota2 besar.."  -reseh. Tiba2 saya disuruh rapat, hal yang paling saya tidak suka selama bekerja disini. Rapat konfirmasi, alias rapat tindak lanjut dari hal2 yang kebanyakan saya tidak tau menau kapan awalnya, otomatis otak saya selalu blank dengan data2 materi rapat… Itu belum berakhir rupanya, sesampainya di meja, sudah ada disposisi tugas merekap seluruh perumahan, dan deadlinenya ditunggu untuk rapat Walikota besok sodara2! Padahal jumlahnya ratusan…:-( Sekarang saya stuck dipojok, menimbang2 untuk melanjutkan merekap, atau kabuuuurrrr..

Mengadu

Friday, March 9th, 2007

Saya bukan tipe orang yang mudah menyerah, saya juga bukan orang yang takut menerima tantangan. Tapi belakangan, saya tidak bersemangat. Mungkin saya terlalu takabur, saya ternyata tidak terlalu pandai mengolah perasaan…lebih tepatnya merubahnya. Kalau ini ternyata membuat hamba tidak bersyukur, ambil saja ‘bongkahan benda’  yang bernama perasaan itu .

My version

Friday, March 2nd, 2007

Kasus perselisihan antara Menpolhukam dan KPK, menggelitik hati saya untuk menuliskan kronologis suatu Departemen/Badan/Dinas -sebut saja pemerintah- dalam hal pengadaan barang dan jasa. Pemerintah tidak berorientasi pada profit taking, lain halnya dengan perusahaan swasta atau BUMN. Segala kegiatan bersifat pelayanan publik, sehingga segala sesuatunya harus dianggarkan jauh-jauh hari. Penganggaran tersebut biasanya dilakukan setiap awal tahun, melalui pengajuan dokumen penyelenggaraan anggaran. termasuk di dalamnya proyek fisik/nonfisik, tunjangan diluar gaji pokok pegawai sampai meubel dan ATK. Dokumen tersebut diajukan ke Badan perencanaan di tingkat pusat ataupun daerah -dalam hal ini BAPENAS/BAPEDA. Setelah semua disetujui, secara otomatis  hal yeng berhubungan dengan proyek fisik/nonfisik harus dilelang ke rekanan -dalam hal ini kontraktor. Semua proses pengadaan barang dan jasa ini harus mengacu Kepres no.80, diantaranya memenangkan rekanan yang memberikan tawaran terendah. Hal-hal yang bisa dijadikan temuan badan pemeriksa -BPK- apabila proses tersebut menyimpang dari kepres tersebut, diantaranya :

  1. Apabila pengumuman pengadaan barang dan jasa tidak pada media yang telah ditentukan.
  2. Memberikan informasi pada rekanan sebelum proses lelang, sehingga terjadi kecurangan dalam menentukan harga terendah.
  3. Menerima segala bentuk pemberian dari rekanan dengan atau tanpa tujuan tertentu dan ada atau tidak ada hubungannya dengan proses pengadaan barang.
  4. Menghalang-halangi peluang rekanan untuk ikut serta dalam proses tersebut.

Pada kenyataanya, semua berpulang pada pribadi masing-masing. Sebegitu jelas aturan ditulis, sebegitu ketat dilaksanakan, kalau tidak ada itikad baik untuk kedua belah pihak, maka transparansi dan yang lebih penting adalah kejujuran dari hasi proses tersebut tidak dapat tercapai.

Semoga bermanfaat…