Kalau tidak panik, bukan Senin. Sepertinya saya mulai terjebak dengan slogan itu. Senin pagi ini, saya bertekad untuk tidak bermalas2an, sehingga tidak terlambat apel pagi. Mandi pukul enam, sarapan, dan berangkat tepat jam setengah tujuh. Dalam hati saya membatin, tumben tidak ada gejolak berarti di hari ini. Tapi hujan deras yang tidak kunjung reda, yang mulai membuat malas. Akhirnya berangkatlah saya dengan berseri2, karena memang ada tetangga saya bilang saya cantik hari ini -teteuuup ah narsis. Mungkin ini hukuman atas kenarsisan saya, dalam perjalanan tiba2 saya ingat, dompet saya ketinggalan!!!..Sambil panik, dan…tentu saja pengen nangisss, saya pulang lagi. Total waktu, dari pulang hingga berangkat lagi, lumayan lama, dan ternyata sudah pukul tujuh kurang lima menit. Dengan sigap saya telpon temen saya, mengabarkan saya pasti akan telat nanti. Padahal ini kan hari Senin, hari wajib apel. Sesuai perkiraan , saya telat. Dan masuk kantor dengan terengah2, kehilangan banyak ‘hal’, padahal kan ini hari terakhir minggu ini. Belum saya selesai menceritakan kesialan saya ke teman kantor, yang akhirnya cuma dijawab "mmm.. itu sering terjadi di kota2 besar.." -reseh. Tiba2 saya disuruh rapat, hal yang paling saya tidak suka selama bekerja disini. Rapat konfirmasi, alias rapat tindak lanjut dari hal2 yang kebanyakan saya tidak tau menau kapan awalnya, otomatis otak saya selalu blank dengan data2 materi rapat… Itu belum berakhir rupanya, sesampainya di meja, sudah ada disposisi tugas merekap seluruh perumahan, dan deadlinenya ditunggu untuk rapat Walikota besok sodara2! Padahal jumlahnya ratusan…:-( Sekarang saya stuck dipojok, menimbang2 untuk melanjutkan merekap, atau kabuuuurrrr..